Hadits Tentang
Mengkhususkan Bermaaf-maafan Menjelang Bulan Ramadhan
Untaian Artikel Ramadhan
Bulan Penuh Berkah
Assalamualaikum Wr.Wb - Kami selaku anggota Remas Al-Amanah akan membahas tentang pengertian Hadits Tentang
Mengkhususkan Bermaaf-maafan Menjelang Bulan Ramadhan. Silahkan di simak :
Adakah riwayat yang menceritakan seperti di bawah
ini,
Marhaban Ya Ramadhan, Do’a Malaikat Jibril adalah sbb:
Marhaban Ya Ramadhan, Do’a Malaikat Jibril adalah sbb:
“Ya Allah tolong abaikan puasa
ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan
hal-hal yang berikut: Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang
tuanya (jika masih ada); Tidak berma’afan terlebih dahulu antara suami istri;
Tidak berma’afan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya. Dan barang
siapa yang menyambut bulan Ramadhan dengan suka cita , maka diharamkan kulitnya
tersentuh api neraka.
Mohon maaf atas
kesalahan yang pernah diperbuat, diucapkan, atau diniatkan
Dari
hadits ini, bisa diambil kesimpulan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi
wasallam memberikan kabar gembira kepada kaum muslimin tentang datang suatu
bulan yang penuh berkah yaitu bulan Ramadhan.
Dengan
nama-nama Allah Yang Husna dan sifat-sifat-Nya yang ‘Ulya, semoga Allah Azza wa
Jalla memberikan taufik-Nya kepada kita dan seluruh kaum muslim, untuk
benar-benar berpuasa karena keimanan dan mengharapkan pahala dari-Nya.
Allahumma amin. wallahu a’lam
Cara menentukan Ibadah Puasa dan Iedul Fithri
Awal puasa ditentukan dengan tiga
perkara :
1. Ru’yah hilal (melihat bulan sabit).
2. Persaksian atau kabar tentang ru’yah hilal.
3. Menyempurnakan bilangan hari bulan Sya’ban.
1. Ru’yah hilal (melihat bulan sabit).
2. Persaksian atau kabar tentang ru’yah hilal.
3. Menyempurnakan bilangan hari bulan Sya’ban.
4.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :
“Puasalah karena melihatnya (hilal) dan berbukalah karena melihatnya. Jika awan menghalangi kalian sempurnakanlah tiga puluh hari. Jika dua orang saksi mempersaksikan (ru’yah hilal) maka berpuasalah dan berbukalah kalian karenanya.” (HR. An-Nasa’I 4/132, Ahmad 4/321, Ad-Daruquthni, 2/167, dari Abdurrahman bin Zaid bin Al-Khattab dari sahabat-sahabat Rasulullah, sanadnya Hasan. Demikian keterangan Syaikh Salim Al-Hilali serta Syaikh Ali Hasan. Lihat Shifatus Shaum Nabi, hal. 29)
Isi
dan makna hadits-hadits diatas menunjukkan bahwa awal bulan puasa dan Iedul
Fithri ditetapkan dengan tiga perkara diatas. Tentang persaksian atau kabar
dari seseorang berdalil dengan hadits yang keempat dengan syarat pembawa berita
adalah orang Islam yang adil, sebagaimana tertera dalam riwayat Ahmad dan
Daraquthni. Sama saja saksinya dua atau satu sebagaimana telah dinyatakan oleh
Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma ketika beliau berkata :
“Manusia sedang melihat-lihat
(munculnya) hilal. Aku beritahukan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
bahwa aku melihatnya. Maka beliau berpuasa dan memerintahkan manusia untuk
berpuasa.” (HR. Abu Dawud 2342, Ad-Darimi 2/4, Ibnu Hibban 871, Al-Hakim 1/423
dan Al-Baihaqi, sanadnya Shahih sebagaimana diterangkan oleh Al-Hafidh Ibnu
Hajar dalam At-Talkhisul Kabir 2/187)
Catatan
dari hadits-hadits diatas (oleh kami):
- Penentuan hilal yang disyari’atkan dalam agama ini cukup melihat bulan dengan mata telanjang.
- Menentukan awal masuknya bulan dengan metode hisab dibantu dengan ilmu astronomi tidak disyari’atkan dalam agama ini (bid’ah), perhatikan hadits-hadits seputar penentuan hilal diatas.
- Allah menjadikan mudah agama ini, maka tidak perlu kita mempersulit diri.
sekian dari kami selaku anggota Remas Al-Amanah ^_^
jika ada kata dalam penulisan beserta artinya, kami mohon maaf
jika ada kata dalam penulisan beserta artinya, kami mohon maaf
jangan lupa tinggalkan komentar yaaa..??? ^_^
Wassalamu'alaikum Wr.Wb

0 Komentar:
Posting Komentar